Make your own free website on Tripod.com
3Daun Group
Home
kelinci hias
Produk kami
Contact Us
Lokasi kami

anggora.jpg

Welcome to Paguyuban peternak kelinci siantar simalungun!

Merupakan ajang berkumpul, dan tukar cerita sesama peternak, hobies dan pemerhati kelinci

Bisnis Kelinci, Sasar RM hingga Penghobi
Denpasar (BisnisBali) –Tingginya animo masyarakat untuk mengkonsumsi daging kelinci dan memeliharanya sebagai hewan kesayangan, berdampak positif bagi pertumbuhan bisnis penjualan kelinci. Pasalnya, dua jenis pangsa pasar ini selalu membutuhkan kelinci dalam jumlah tertentu secara berkesinambungan.

“Meski kelihatannya sepele, namun bisnis kelinci bukanlah usaha yang percuma. Sebab, segmen pasar cukup beragam dengan peruntukannya masing-masing,” tutur Cahyono, pebisnis kelinci di Denpasar, Kamis (3/4) kemarin.

Dijelaskan, ternak kecil bisa dijadikan komoditi komersial sebagai penghasil daging maupun satwa kesayangan. Segmen pasar kelinci ini ada dua itu yaitu pebisnis rumah makan (RM) yang mengemas kelinci ini sebagai hidangan sate dan para penghobi hewan kesayangan yang kebanyakan merupakan kalangan remaja putri.

Imbuhnya, saat ini kedua segmen pasar tersebut potensial, sebab permintaan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing konsumen tersebut cukup banyak, sedangkan pasokan kelinci sendiri dari lokal maupun luar Bali jumlahnya relatif terbatas. Hal itu sekaligus membuat harga kelinci stabil dan bahkan cenderung meningkat bila pasokan barang lagi sepi di pasaran.

Baiknya potensi pasar untuk komoditi kelinci ini, itu tercipta karena mengkonsumsi hewan bertelinga panjang ini dianggap bagi sebagian orang memiliki kandungan menyehatkan tubuh.

Sebab, daging dari kelinci ini bebas kolesterol, lemak dan mengandung omega 3 yang semua kandungan tersebut dapat membantu penyembuhan para penderita asma, infeksi tenggorokan, liver dan asam urat.

Sementara sebagai hewan kesayangan, kelinci ini cukup lucu dan memiliki karakter lincah bergerak sehingga cocok untuk diajak bermain. Selama ini memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi ini, ia mengaku sengaja mendatangkan bibit kelinci ini sebagian besar dari Jawa dengan jumlah mencapai puluhan ekor sekali kirim, kemudian dipelihara selama sekitar 6 bulan sampai satu tahun maka komoditi ini sudah memiliki nilai jual, itu untuk jenis kelinci hias.

Sementara untuk konsumsi pemeliharaannya relatif sama, perbedaannya hanya pada varietas dan umur budi dayanya yang agak lebih lama ketimbang kelinci hias.

Dari pengalamannya, untuk skala peternakan biasanya bisa membudidayakan kelinci minimal 50 ekor betina dan 5 ekor kelinci jantan, itu dengan modal di bawah Rp 500.000 untuk membeli sepasang kelinci, biaya pembuatan kandang dan penyediaan pakan.

Hal serupa juga diungkapkan Ismunadi, pebisnis sejenis lainnya. Kata dia, prospek budi daya kelinci cukup menjanjikan. Pasalnya, nilai ekonomis kelinci cukup menguntungkan, betapa tidak untuk harga kelinci hias di pasaran lokal bermain pada kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu per pasang.

Sementara anak kelinci untuk konsumsi bisa laku dijual Rp 30 ribuan sepasang dan tiap ekor kelinci konsumsi dewasa dihargai Rp 20 ribuan. ”Hanya dipelihara beberapa bulan, saya kira biaya yang sebelumnya dikeluarkan sudah bisa balik modal,” tandasnya. *man

Kelinci hias

lop.jpg
lop
Please get in touch to offer comments and join our mailing list for sales and specials!

You can e-mail us at:

Jl. Medan Km 4,5 3daun bkl masa jaya pematang siantar Sumut 21138