|
Denpasar (BisnisBali) –Tingginya animo masyarakat untuk mengkonsumsi daging kelinci
dan memeliharanya sebagai hewan kesayangan, berdampak positif bagi pertumbuhan bisnis penjualan kelinci. Pasalnya, dua jenis
pangsa pasar ini selalu membutuhkan kelinci dalam jumlah tertentu secara berkesinambungan.
“Meski kelihatannya
sepele, namun bisnis kelinci bukanlah usaha yang percuma. Sebab, segmen pasar cukup beragam dengan peruntukannya masing-masing,”
tutur Cahyono, pebisnis kelinci di Denpasar, Kamis (3/4) kemarin.
Dijelaskan, ternak kecil bisa dijadikan komoditi
komersial sebagai penghasil daging maupun satwa kesayangan. Segmen pasar kelinci ini ada dua itu yaitu pebisnis rumah makan
(RM) yang mengemas kelinci ini sebagai hidangan sate dan para penghobi hewan kesayangan yang kebanyakan merupakan kalangan
remaja putri.
Imbuhnya, saat ini kedua segmen pasar tersebut potensial, sebab permintaan untuk memenuhi kebutuhan
masing-masing konsumen tersebut cukup banyak, sedangkan pasokan kelinci sendiri dari lokal maupun luar Bali jumlahnya relatif
terbatas. Hal itu sekaligus membuat harga kelinci stabil dan bahkan cenderung meningkat bila pasokan barang lagi sepi di pasaran.
Baiknya
potensi pasar untuk komoditi kelinci ini, itu tercipta karena mengkonsumsi hewan bertelinga panjang ini dianggap bagi sebagian
orang memiliki kandungan menyehatkan tubuh.
Sebab, daging dari kelinci ini bebas kolesterol, lemak dan mengandung
omega 3 yang semua kandungan tersebut dapat membantu penyembuhan para penderita asma, infeksi tenggorokan, liver dan asam
urat.
Sementara sebagai hewan kesayangan, kelinci ini cukup lucu dan memiliki karakter lincah bergerak sehingga cocok
untuk diajak bermain. Selama ini memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi ini, ia mengaku sengaja mendatangkan bibit kelinci
ini sebagian besar dari Jawa dengan jumlah mencapai puluhan ekor sekali kirim, kemudian dipelihara selama sekitar 6 bulan
sampai satu tahun maka komoditi ini sudah memiliki nilai jual, itu untuk jenis kelinci hias.
Sementara untuk konsumsi
pemeliharaannya relatif sama, perbedaannya hanya pada varietas dan umur budi dayanya yang agak lebih lama ketimbang kelinci
hias.
Dari pengalamannya, untuk skala peternakan biasanya bisa membudidayakan kelinci minimal 50 ekor betina dan 5
ekor kelinci jantan, itu dengan modal di bawah Rp 500.000 untuk membeli sepasang kelinci, biaya pembuatan kandang dan penyediaan
pakan.
Hal serupa juga diungkapkan Ismunadi, pebisnis sejenis lainnya. Kata dia, prospek budi daya kelinci cukup menjanjikan.
Pasalnya, nilai ekonomis kelinci cukup menguntungkan, betapa tidak untuk harga kelinci hias di pasaran lokal bermain pada
kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu per pasang.
Sementara anak kelinci untuk konsumsi bisa laku dijual Rp 30 ribuan
sepasang dan tiap ekor kelinci konsumsi dewasa dihargai Rp 20 ribuan. ”Hanya dipelihara beberapa bulan, saya kira biaya
yang sebelumnya dikeluarkan sudah bisa balik modal,” tandasnya. *man
|